Jumat, 24 Juni 2016

Mengenal Desy, Wanita Berjilbab Perawat Anjing Liar di Lombok yang Ramai di Facebook
Yudhistira Amran Saleh - detikNews



Lombok - Beberapa hari ini media sosial yaitu Facebook digemparkan oleh foto yang memperlihatkan seorang wanita memberi makan anjing. Foto tersebut sebenarnya biasa saja, namun yang menjadi isu hangat adalah tatkala wanita tersebut mengenakan jilbab syar'i kemudian memberi makan anjing yang jumlahnya puluhan.

detikcom kemudian menelusuri foto tersebut. Setelah dilakukan penelusuran, diketahui wanita berjilbab itu bernama Desy Marlina Amin.

Desy tinggal di daerah Praya, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Setelah dihubungi melalui Facebook, Desy pun berkenan menemui detikcom, Minggu (19/6) pagi di Taman Sangkareang, Jalan Pejanggik, Mataram, Lombok, NTB.


"Jadi saya itu setiap ada momen apa pun selalu foto. Kemudian kan dimasukkan ke Facebook. Termasuk juga ketika saya memberi makan anjing-anjing saya atau juga kucing. Rata-rata anjing-anjing dan kucing-kucing tersebut semua liar yang terus saya pelihara di pekarangan belakang rumah. Setiap saya kasih makan pasti saya foto," kata Desy Marlina Amin.

"Ya terus diunggah ke Facebook. Mungkin karena saya pakai jilbab kemudian memberi makan anjing jadi dari situlah kemudian menjadi viral. Saya sih senang malah foto saya jadi viral bersama anjing-anjing dan kucing saya. Jadi siapa tahu kalau orang ada yang mau adopsi mereka (anjing dan kucing) jadi gampang," lanjutnya.

Menurut Desy, dari kecil dirinya memang sudah menyukai binatang-binatang. Baik itu anjing, kucing, biawak, bahkan ular sekali pun. Ia pun tak segan untuk merawat binatang yang terluka dan tak terawat bila ia bertemu di jalan.

"Jadi memang sejak kecil saya suka dengan binatang. Saya sayang dan menjaga mereka. Ketika saya di jalan lihat ada anjing atau kucing yang luka dan tak terawat pun kemudian saya ambil dan rawat di rumah sampai sembuh," ucap Desy.

Anak keempat dari empat bersaudara ini menuturkan bahwa dalam merawat dan menyayangi binatang, manusia tidak perlu pandang bulu. Karena semua itu adalah ciptaan Tuhan. Dilihat dari laman Facebooknya, Desy memang cukup aktif mengupdate status juga mengupload foto yang berkaitan dengan anjing dan kucing liarnya. Beberapa foto juga tampak menunjukkan kegiatan dia dalam mengambil anjing liar, atau kucing di jalanan. Sekadar diketahui, di Lombok, selain kucing memang banyak anjing liar berkeliaran.


Selama melakukan perawatan terhadap anjing liarnya, Desy selalu menggunakan uang pribadinya. Terkadang ada juga beberapa penyuka binatang memberikan dia bantuan berupa uang, obat-obatan, makanan, dan minuman.

"Kadang kan orang mikir ya, mau apa sih dia nolong binatang. Padahal kalau mereka sakit biayanya lebih mahal mereka dibanding manusia. Bayangin aja, sekali tindakan sama anjing itu Rp 100 ribu. Terus kalau anjingnya musti rawat inap, per hari Rp 50 ribu. Ya karena saya senang membantu makanya saya ingin membantu mereka juga," tutup Desy. 
(yds/dra)

Kisah Ayman, Pria Palestina yang Menjalani Hidup di Amerika
Ananda Muthia Putri - detikNews



Cleveland - Menjadi seorang pendatang dan menjalani kehidupan di negeri orang tidak selalu menjadi perkara mudah. Apalagi menjadi muslim yang merupakan minoritas di negara yang mayoritasnya berpeduduk non muslim seperti Amerika Serikat. 

Ayman Alkayali, pria Palestina yang berjuang dengan segala cara untuk dapat hidup dan beradaptasi dengan kehidupan di Amerika Serikat. Kedua orang tua Ayman lahir di Palestina, ibunya di daerah Jaffa dan ayahnya di Ramla. Pada waktu nakba (eksodus warga Palestina tahun 1948), mereka terpaksa pindah ke Syria, dan di waktu yang bersamaan mereka bermigrasi ke Kuwait kemudian ke Tripoli, Libya. 

"Kami adalah salah satu keluarga Palestina pertama yang pindah ke Libya," kata Ayman seperti dilansir oleh Aljazeera, Sabtu (11/6/2016).

Ketika Ayman berumur 16 tahun, ia meninggalkan Libya dan mempelajari arsitektur Jerman di Wina, Austria. Mulai dari sinilah ia merasakan kesulitan untuk hidup di negara orang lain. 

"Kalau kamu tidak merasa cocok, kamu akan selalu merasa sebagai pendatang atau orang asing. Meskipun mereka mengetahui namamu, mereka akan tetap memanggilmu 'orang asing', aku tidak menyukainya," tuturnya. 

Ayman pernah bertanya pada sepupunya yang belajar di Cleveland, Ohio tentang bagaimana keadaan di Amerika Serikat, dan meminta izin pada ayahnya untuk pindah ke sana. 

Ketika sampai di AS, Ayman belajar bahasa Inggris di pusat pembelajaran untuk imigran dan kemudian mendaftar di Program Teknik Biodemik di Case Western University. Seperti yang lainnya, ia menghadiri kelas, mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang.

Ketertarikannya di teknik biodemik ternyata tidak bertahan lama karena itu ia pindah ke teknik elektro dan kemudian ke teknik mekanik, tetapi hasilnya sama, ia tidak merasa nyaman. 

Sebelumnya ia tidak pernah merasa tertarik dengan seni, namun kemudian ia berteman dengan seorang gadis yang menganjurkannya untuk mengeksplor kemampuannya di bidang lukis dan hasilnya ia tidak bisa berhenti. 

"Akhirnya aku mengambil kelas pembuatan keramik dan aku jatuh cinta. Aku benar-benar jatuh cinta pada seni dan aku berpikir untuk meneruskan di seni," jelas Ayman. 

Keputusan Ayman untuk meninggalkan universitas dan menjadi pekerja seni ternyata tidak didukung oleh keluarganya. Ayahnya yang bergelut di bidang teknik sipil dan ibunya yang bekerja di PBB, selalu menekankan padanya tentang pentingnya pendidikan. 

"Kami adalah orang Palestina, kami menghadapi berbagai penderitaan dan salah satu cara untuk melawan hal tersebut adalah dengan jalur pendidikan, dengan itu kami akan mendapatkan pekerjaan yang baik. Jadi kebanyakan orang adalah seorang insinyur atau dokter, pengacara, kau tahu lah, pekerjaan-pekerjaan tingkat tinggi," jelas Ayman.

Sekalipun Ayman merasa bahwa seni sebagai sebuah bentuk terapi baginya, namun akhirnya ia mengikuti saran ayahnya. Ia kemudian mengambil kursus bisnis adminisrasi di sebuah komunitas. 

Ayman kemudian melanjutkan untuk berkarya di bidang seni. Untuk membayar tagihan-tagihannya, ia bekerja sebagai koki di sebuah restoran Italia di Little Italy, Cleveland, di mana ia juga tinggal di sana dan menyewakan studio seni keramik. 

"Sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehku untuk memasak, tapi aku suka memasak," tuturnya. 

Pada Agustus 2001, Ayman membuka sebuah Tea House bernama Algebra di Little Italy. Pintu depan, meja-meja dan rak-rak di sana merupakan hasil karya Ayman sendiri. Ia juga mengecat seluruh dinding sendiri. Di sana terdapat banyak rak yang berisikan buku-buku puisi, sampai buku mengenai arsitektur Islam dan masakan Palestina. 

Di awal-awal keberadaan Algebra, Ayman harus menghadapi beberapa perlawanan. Banyak tetangganya yang tidak menginginkan Ayman berada di sana. Mereka memaksanya pergi dan mereka juga menghina secara rasis. 

"Aku harus bertahan dan melewati semua itu selama 3 tahun pertama. Syukurnya, ada beberapa penduduk yang mendukungku, tanpa mereka, semua akan terasa lebih sulit," cerita Ayman. 

Dua minggu setelah Algebra buka, World Trade Center diserang. Itu merupakan keadaan sulit lainnya bagi Ayman. Ia harus berjuang secara finansial karena pada awal berdirinya Algebra tidak menghasilkan uang. Untuk membayar biaya sewa dan karyawan-karyawannya, Ayman akhirnya harus bekerja di konstruksi, membersihkan garasi dan mengecat rumah. 

"Selama beberapa tahun, kami harus bertahan bulan demi bulan," jelas Ayman.

Lima belas tahun kemudian, Ayman merasa Algebra adalah bagian kuat dari komunitas. "Kami meiliki reputasi yang bagus, kami ikut diskusi bila terdapat isu di lingkungan yang harus diselesaikan. Kami merupakan salah satu lading bisnis tertua di lingkungan. Mereka menerima kami dengan apa adanya," pungkasnya. 

Ayman lahir sebagai seorang Muslim. Namun di waktu kecil, orang tuanya tidak berperilaku sebagai seorang muslim. 

"Pada waktu itu, sekitar tahun 1970 dan 1980-an, banyak orang Arab yang mulai mengikuti gaya kebarat-baratan. Mereka percaya pada agama sekuler. Banyak dari mereka yang berpikir untuk meninggalkan Islamdan berpikir bahwa Islam itu agama yang terbelakang," jelasnya. 

Kemudian Ayman mulai mempelajari Islam lebih dalam dan menemukan cahaya terang dan menyadari bahwa agamanya itu sangatlah indah. 

Ayman kini hidup damai dan diterima di lingkungannya, meski dia muslim dan menjadi mayoritas di sana. 
(slh/slh)