Palu-Bentrok
yang terjadi di tambang poboya merupakan bentrok yang dimotori oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggunjawab, yang mempunyai kepentingan untuk modal di
daerah ini sudah sekian banyak kasus-kasus yang sama bermula dari perkelahian
pemuda, ini lagi cuman persoalan kalimat antara etnis da’a dan etnis tara yang
kemudian memicu reaksi komunal ini perlu dipahami bahwa bukanlah
keinginan rakyat untuk berkelahi ataupun melakukan kekerasan terhadap
sesamanya, rakyat hanya butu makan dan minum demi untuk mempertahankan
kehidupannya.
Demikian
aktivis Tanah Merdeka Palu Adriansyah, melalui press rilisnya di terima redaksi
Selasa (20/12).
Dia mengurai, belum hilang diingatan
kita, Kerusuhan Poso bermula dari perkelahian pemuda kemudian memicu
konflik sara, juga konflik komunal sigi berawal dari perkelahian pemuda yang
juga mengakibatkan konflik antar desa, ini semua karena ada pihak-pihak yang
menginginkan perkelahian dimana konflik-konflik yang memicu kelompok selalu
berawal dari etnis ke etnis lain, suku-kesuku lain, agama ke agama lain, ini
sebenarnya tidak rasional jika dijelaskan secara dangkal, untuk apa berkelahi
kalau rakyat kenyang, ini tidak luput dimana ada struktur yang lebih
mengutamakan kepenting para pemodal dibanding kesejateraan rakyat. Rakyat
indonesia sekarang lapar, jika statement Kapolda Sulteng Brigjen Pol Dewa
Parsana di media Alkhairaat selasa, 20 desember 2011 yang menyatakan, Kalau
saya mau, saya bisa saja menutup tambang itu, karena itu ilegal.
Seakan-akan
rakyat yang selalu disalahkan sudah dimiskinkan disalahkan lagi, belum lagi
penindasan-penindasan aparat kerap kali terjadi oleh karena lebih mementingkan
uang dibanding kesejahtraan rakyat, kenapa karena terbukti aparat selalu
menghalang-halangi rakyat ketika mau menuntut hak-haknya, masyarakat ditembaki
jika melawan tambang asing dan perusahan-perusahan milik negara-negara luar.
Sudah jelas-jelas kok rakyat ini
cuman butuh makan dan minum, dimana kesejateraannya selalu dirampas oleh para
investor asing melalu negara, pertambangan yang katannya milik negara untuk
rakyat tapi diprivatisasi negara ke segelintir orang-orang yang punya modal.
Mestinya
pihak keamanan menjadi pelindung rakyat, jika negara kita gobrok begini, ya
harusnya pihak kepolisian ikut berjuang bersama rakyat membantu rakyat menuntut
keadilan yang semestinya menjadi perhatian para elit-elit dibangku eksekutif,
legislatif dan yudikatif sebagai perwakilan rakyat.
Sumber : Deadline News
Edisi 138, 26 Desember-1 Januari
2012
BAIM (deadline news)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar